Kamis, Juli 24, 2008
Selasa, Juni 24, 2008
Building my new site...
Kamis, Mei 29, 2008
is back...
Senin, April 14, 2008
Zaman Emas Indonesia
Kapan waktunya dan siapa presidennya belum diketahui. Namun keberadaannya jelas karena logikanya juga jelas yaitu potensi alamnya yang luar biasa dan jumlah penduduknya yang begini besar tak mungkin goblok semua.
Saat itu presidennya tegas dan keras, tidak takut mati dan tidak takut kehilangan pendukungnya. Hatinya baik, tidak ada pikiran uang sama sekali karena sejak bayi sudah kaya raya. Ketegasannya mendapat dukungan seluruh rakyat miskin di Indonesia, yaitu dalam melenyapkan korupsi, kejahatan dasar yang membuat negara ini hampir saja pecah belah.
Koruptor yang diketahui menilep uang negara satu miliar ke atas langsung dihukum mati karena yang antre untuk diadili begitu panjang. Koruptor di atas satu setengah miliar dipotong tangannya dan dipenjara seumur hidup. Khusus perkara korupsi tidak ada naik banding menurut hukum negara yang disetujui anggota DPR, yang anggota-anggotanya cerdas, baik hati, tak banyak bicara, tetapi lebih banyak berpikir.
Dalam waktu satu tahun pemerintahannya, nafsu orang yang ingin korup langsung lenyap. Hampir tiap hari ada korputor yang dihukum mati, sampai banyak yang tak sempat disiarkan media. Keluarga koruptor yang dihukum mati, saat itu, tak mau mengubur sendiri, takut kerandanya ditimpuki rakyat miskin yang marah
Demi perikemanusiaan
Pers dalam dan luar negeri cerwet menantang pemberantasan korupsi yang mereka nilai biadab dan melanggar hak asasi manusia ini. Namun presiden kita memang orang berani, “Saya tidak takut masuk neraka”, katanya kepada juru kritik. “Dalam situasi luar biasa diperlukan tindakan luar biasa”, tambah wakil prsidennya yang sama-sama batu karangnya.
Dalam waktu dua tahun pertama masa kepresidenannya, tak seorang pegawai negeri pun berani mangkir kerja tanpa surat dokter negeri. Orang berseragam pegawai negeri tak ada di jalanan, apalagi mal. Merokok pun tak berani kecuali saat istirahat. Tiba-tiba seluruh pegawai negeri sibuk bekerja karena tugasnya tak habis-habis, semua melalui prosedur yang semestinya. Orang yang suka menyogok pun tak berkutik akibat semua pegawai negeri tak butuh sogokan, takut buat dipecat hari itu juga.
Para polisi di jalan raya dan di tempat lain tak lagi membawa pistol. Mereka hanya dibekali pentungan karet. Semua pengguna jalan tertib, antrean lama tak mengapa, karena tilang langsung dengan denda tinggi amat menakutkan. Para pengguna jalan ini patuh membayar denda tinggi karena yakin uang denda benar-benar masuk kas negara.
Meski polisi tidak bersenjata, nyali para penjahat juga kecut karena yang diketahui membunuh korban langsung dihukum mati. Utang nyawa di bayar nyawa, itulah semboyan di pojok-pojok toko. Para pemerkosa dihukum seumur hidup. Dua kali memerkosa dihukum mati. Di mana sila Perikemanusiaan dalam pancasila? Jawab presiden “Itu semua dilakukan demi perikemanusiaan , bukan perikejahatan”
Setelah pemberantasan biang kekacauan, berangusur-angsur negara Indonesia membutuhkan tambahan pegawai, karena tak ada lagi budaya sogok, hanya mereka yang benar-benar mampu di bidangnya dapat diterima. Kerja pembangunan bisa dilaksanakan. Tidak ada rencana pembangunan yang tak berhasil karena semua dana utuh sampai selesai. Jalan-jalan mulus. Kemacetan tak ada lagi akibat pembangunan jalan layang bagai kabel listrik di kota-kota besar. Dan subway dibangun di mana-mana.
Ibu kota negara dipindah ke Kalimantan, di tengah-tengah kepulauan indonesia. Itulah Washington Indonesia. Jakarta adalah New York-nya Indonesia. Bandara seperti Soekarno-Hatta dibangun di 20 kota besar Indonesia. Semua berasal dari uang negara yang 100 % selamat. Coba sejak tahu 1970-an sudah begini, Indonesia akan disebut macan Asia nomor dua setelah Jepang.
Syarat kesuburan
Pada pemerintahan kedua, turis Indonesia ditunggu-tunggu negara-negara tetangga. TKI dan TKW telah lenyap sejak pemerintahan pertama hampir berakhir. Bahkan, TKW bangsa lain masuk Indonesia.
Turisme bukan lagi slogan. Menteri Pariwisata paliung sibuk bekerja. Pada malam hari, lampu kantor ini tak pernah padam. Devisa sektor ini melebihi pendapatam pajak, pertambangan , pertanian dan kehutaan. Para turis dimanja karena aman , transpor tepat waktu dan “Bali-Bali” baru bertebaran di Indonesia.
Nilai mata uang rupiah yang puluhan tahun bikin malu bangsa (negara sama sekali tak malu) diturunkan menjadi satu dollar AS setara satu rupiah RI. Bayangkan kalau kekayaan negara dihitung dalam nilai mata uang lama akan membingungkan kepala akibat triliun dari triliun dan triliun rupiah. Harga mobil paling mewah Cuma Rp. 200.000. Gaji pegawai negeri paling top Rp. 70.000. Recehan satu sen ada di kantong tiap warga negara
Setelah pemerintahan yang kedua berakhir, presiden dan wakil presiden kita pensiun. Meski rakyat tetap ingin memilihnya, keduanya tetap menolak karena tak sesuai dengan udang-undang. Penggantinya tidak sehebat presiden kita itu, tetapi tidak apa sebab seluruh bangsa telah memasuki budaya baru, yaitu budaya bersih. Orang takut, namanya masuk koran meski cuma nyopet jam tangan.
Impian tata temtrem kerta raharja, adil makmur ternyata bukan omong kosong dongeng anak-anak. Kuncinya hanya satu, tembak mati para maling negara entah jamaah maupun perorangan. Ibu pertiwi akan bersimbah darah para penjarah, tapi itulah syarat kesuburan.
Senin, April 07, 2008
yuk...Kurangi Pemakaian Plastik

Kamis, April 03, 2008
For Me..
Rabu, April 02, 2008
Rutinitas
Tapi, dipikir-pikir, hidup kita pasti tak akan lepas dari rutinitas. Bukankah setiap sekian detik kita bernafas? Setiap sepersekian detik jantung kita memompa darah?Bukankah setiap 3 kali sehari kita makan?(ini normalnya). Apa namanya kalau bukan rutinitas? Kebutuhankah? hmm..bisa jadi, kalau begitu apa namanya, pegawai yang setiap hari bekerja, mahasiswa dan pelajar yang setiap hari kuliah dan sekolah, seorang ibu yang setiap hari mengurus anak-anaknya, kebutuhan atau rutinitas?
Permasalahannya hanya dari sudut mana kita memandang dan bagaimana kita menafsirkan aktivitas yang kita lakukan. Allah memerintahkan umat Islam untuk sholat wajib 5 waktu jelas bukan hanya untuk sekedar rutinitas atau kewajiban yang harus ditunaikan. Lebih dari itu, karena sholat adalah sarana kita untuk berinteraksi denganNya, penghalang dan pemisah diri kita dari perbuatan keji dan mungkar, penyejuk bagi kita yang sedang dahaga iman, penenang bagi keresahan.
Memandang suatu aktivitas jika hanya sebagai rutinitas, menurut saya hanya akan membuat kita merasa jenuh, lelah atau sebaliknya tidak pernah puas. Ada banyak hal baru di setiap hari yang kita lewati, yang bisa kita amati, pelajari dan ambil hikmahnya. Bahkan niat dan tekad beramal untuk setiap aktivitas yang kita lakukan, akan menjadikan kita bersemangat menghadapi hari-hari, sekalipun masih dalam ruang lingkup yang itu-itu saja. Dan akan lebih dahsyat lagi ketika melakukannya dengan ikhlas karena Allah.
Selasa, Maret 25, 2008
My Best Friend Wedding
Ladies First, please....
Beberapa waktu lalu, sepulang dari kantor, saya naik patas 143 jurusan Depok-Grogol. Seperti biasa, pada jam-jam seperti itu, bis selalu penuh sesak, bahkan untuk mencari pegangan untuk berdiri tegap saja sulit. Di sebelah saya berdiri seorang ibu hamil dengan usia kandungan sekitar 7 bulan. Kasihan juga melihat ibu itu ikut berdiri berdesak-desakan, sayangnya saya juga berdiri, tak bisa menawarkan kursi untuknya. Awalnya ibu ini terlihat biasa saja, tapi lama-lama saya perhatikan, wajahnya terlihat pucat dan sepertinya kelelahan.
"Turun dimana bu?", tanya saya
"di Depok" jawab ibu itu
Di lain kesempatan, lagi-lagi dalam Patas 143, saya masih berdiri di antara desakan penumpang. Biasanya saya cukup kuat untuk berdiri selama 1-1,5 jam selama perjalanan. Tapi malam itu, penyakit maag saya yang beberapa bulan terakhir menghilang ternyata kambuh lagi (OOT perhatian!!: jangan meremehkan penyakit maag). Ingin sekali saya berteriak pada penumpang yang lain, tolong beri saya tempat duduk, perut saya sakit sekali. Tapi kata-kata itu hanya terucap dalam hati. Saya pun tetap berdiri sambil setengah membungkuk dan memegangi perut saya saking sakitnya. Barangkali banyak yang memperhatikan tingkah laku saya yang aneh saat itu. Sayangnya tak ada yang prihatin untuk sekedar menanyakan kenapa, apalagi merelakan tempat duduknya...
Dan ternyata mendapat tempat duduk dalam bis memang sangat menyenangkan. Sebagian besar penumpang yang mendapat tempat duduk bahkan menghabiskan waktunya untuk tidur selama perjalanan. Kenikmatan selama duduk ternyata membuat kita lupa dan terbuai, bahwa ibu hamil, lansia, orang sakit, yang sedang berdiri berdesakkan di samping kita lebih membutuhkan tempat duduk.
Saya pikir tak ada lagi yang berani mengucapkan "Ladies First, please...". Saat para ladies mengucapkan kata-kata ini, para gentleman pun membalas "katanya mau persamaan hak...ga dikasih tempat duduk aja kok protes...".
Nah lho?...
Senin, Maret 24, 2008
sedikit menghibur...
tak lagi ku dengar dengan sungguh
juga tutur kata yang mencela
tak lagi ku cerna dalam jiwa
aku bukanlah seorang yang mengerti
tentang kelihaian membaca hati
ku hanya pemimpi kecil yang berangan
tuk merubah nasibnya
bukankah ku pernah melihat bintang
senyum menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya
yang lelah jiwanya
ku gerakkan langkah kaki
di mana tempat akan bertumbuh
ku layangkan jauh mata memadang
tuk melanjutkan mimpi yang terutuh
masih ku coba mengejar rinduku
meski peluh membasahi tangan
lelah penat tak menghalangiku
menemukan bahagia
bukankah hidup ada penghentian
tak harus kencang terus berlari
ku helakan nafas panjang
tuk siap berlari kembali…
berlari kembali..
melangkahkan kaki
menuju cahaya
bagai bintang yang bersinar
menghibur yang lelah jiwanya
bagai bintang yang berpijar
menghibur yang sedih hatinya
(Sang Penghibur - PADI)